TEMPO Interaktif, Bandung - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral R Sukhyar mengatakan, dalam tiga hari ini perubahan ...

TEMPO Interaktif, Bandung - Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral R Sukhyar mengatakan, dalam tiga hari ini perubahan deformasi Gunung Bromo cenderung mengecil. “Deformasi ini sekarang relatif mengecil dan tidak terjadi lagi, apakah ini berarti akhir dari kegiatan Bromo, kita tunggu hasil pemantauan beberapa hari ke depan,” katanya di Bandung, Senin (29/11).
Sukhyar mengatakan, selain memantau aktivitas seismik, lembaganya melakukan pemantauan terhadap perubahan bentuk atau deformasi Gunung Bromo. Pemantauan terhadap deformasi gunung itu untuk melihat kembang-kempisnya lereng gunung itu akibat desakan material yang keluar dari kawah gunung itu.
Menurut dia, hasil pemantauan deformasi gunung itu dalam tiga hari terakhir, cenderung sudah tidak terjadi lagi pengembangan badan gunung itu. ”Mudah-mudahan itu tanda-tanda akan berakhir (aktivitas letusannya),” kata Sukhyar.
Sukhyar mengatakan, rekaman instrumental terhadap aktivitas gunung itu tahun ini, relatif tidak berubah dibandingkan yang tercatat saat erupsi gunung itu pada 2004 lalu. Dia mencontohkan, erupsi gunung itu masih ditandai dengan terpantaunya tremor, getaran yang mencerminkan keluarnya gas atau material dari kepundan gunung itu. ”Rekamannya tidak banyak berbeda,” katanya.
Gunung Bromo memiliki ciri khas letusan berupa keluarnya material halus atau debu secara vertikal. Ketinggian hembusan material tahun ini paling jauh tercatat menjangkau 700 meter. Hembusan asap ini masih kalah dibandingkan erupsi 2004 lalu, yang bisa menyemburkan material halus sampai ketinggian 1.000 meter.
Jika ada material kasar yang ikut terlempar, papar Sukhar, jarak jangkauannya hanya di seputar kawah. Terutama di daerah lautan pasir seputar kawah gunung itu.
Daerah yang terkena dampak letusan gunung itu hanya sebatas radius 3 kilometer. ”Material halus itu berada di lereng-lereng, itu tidak cukup besar, terlalu tipis untuk menjadikan lahar, lahar itu bongkah-bongkah besar yang tebal lalu tergiring air hujan,” kata Sukhyar.
Sukhyar mengatakan, jika melihat produk material yang dilepaskan letusan Bromo, dampaknya hanya abu gunung itu. Soal areal terdampaknya, bergantung hembusan angin saat itu. ”Saya dengar kebanyakan ke arah Malang, ke arah Barat Daya, ini masih terus terjadi,” katanya.
Letusan abu gunung itu, paparnya, masih terhitung belum berbahaya bagi penerbangan yang melintas di wilayah udara di atas gunung itu. Hingga saat ini, lembaganya pun belum memutuskan untuk memberlakukan evakuasi bagi warga di sekitar gunung itu.
Sukhyar mengatakan, selain memantau aktivitas seismik, lembaganya melakukan pemantauan terhadap perubahan bentuk atau deformasi Gunung Bromo. Pemantauan terhadap deformasi gunung itu untuk melihat kembang-kempisnya lereng gunung itu akibat desakan material yang keluar dari kawah gunung itu.
Menurut dia, hasil pemantauan deformasi gunung itu dalam tiga hari terakhir, cenderung sudah tidak terjadi lagi pengembangan badan gunung itu. ”Mudah-mudahan itu tanda-tanda akan berakhir (aktivitas letusannya),” kata Sukhyar.
Sukhyar mengatakan, rekaman instrumental terhadap aktivitas gunung itu tahun ini, relatif tidak berubah dibandingkan yang tercatat saat erupsi gunung itu pada 2004 lalu. Dia mencontohkan, erupsi gunung itu masih ditandai dengan terpantaunya tremor, getaran yang mencerminkan keluarnya gas atau material dari kepundan gunung itu. ”Rekamannya tidak banyak berbeda,” katanya.
Gunung Bromo memiliki ciri khas letusan berupa keluarnya material halus atau debu secara vertikal. Ketinggian hembusan material tahun ini paling jauh tercatat menjangkau 700 meter. Hembusan asap ini masih kalah dibandingkan erupsi 2004 lalu, yang bisa menyemburkan material halus sampai ketinggian 1.000 meter.
Jika ada material kasar yang ikut terlempar, papar Sukhar, jarak jangkauannya hanya di seputar kawah. Terutama di daerah lautan pasir seputar kawah gunung itu.
Daerah yang terkena dampak letusan gunung itu hanya sebatas radius 3 kilometer. ”Material halus itu berada di lereng-lereng, itu tidak cukup besar, terlalu tipis untuk menjadikan lahar, lahar itu bongkah-bongkah besar yang tebal lalu tergiring air hujan,” kata Sukhyar.
Sukhyar mengatakan, jika melihat produk material yang dilepaskan letusan Bromo, dampaknya hanya abu gunung itu. Soal areal terdampaknya, bergantung hembusan angin saat itu. ”Saya dengar kebanyakan ke arah Malang, ke arah Barat Daya, ini masih terus terjadi,” katanya.
Letusan abu gunung itu, paparnya, masih terhitung belum berbahaya bagi penerbangan yang melintas di wilayah udara di atas gunung itu. Hingga saat ini, lembaganya pun belum memutuskan untuk memberlakukan evakuasi bagi warga di sekitar gunung itu.




COMMENTS