$type=slider$snippet=hide$cate=0$show=home

Ngeri Sedap di atas Canopy Bridge Bukit Bangkirai

Taman Wisata Alam – Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur. memiliki sebuah jembatan tajuk sepanjang 64 meter dan 30 meter dari permukaan tanah, satu-satunya di Indonesia dan di Asia



Canopy Bridge di Bukit Bangkirai, inilah yang membawa kakiku melangkah ke sini, Taman Wisata Alam – Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur. Sebuah jembatan tajuk sepanjang 64 meter dan 30 meter dari permukaan tanah, satu-satunya di Indonesia dan di Asia hanya ada dua jembatan, sementara ini diseluruh dunia anda akan mendapatinya 8 canopy bridge.



Bukit Bangkirai sendiri berlokasi di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara, tepatnya di Jl. Raya Soekarno-Hatta KM 38, lalu masuk menuju kecamatan Samboja sejarak 20 km dan ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam dari Balikpapan, bisa dengan menggunakan motor atau mobil. Meskipun masuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara namun kebanyakan orang mengenalnya berada di Balikpapan karena memang lebih dekat ke Balikpapan.



Dari Balikpapan kami berlima mengendarai mobil melintasi jalanan aspal yang relatif sempit ,jika dibandingkan dengan kebanyakan jalan propinsi di Jawa. Sehingga kami harus extra hati hati agar roda mobil jangan sampai terperosok. Begitu memasuki tikungan menuju ke Bangkirai jalanan berganti menjadi beton, tetapi tidak terlalu menguntungkan, karena sudah tidak rata alias bergelombang dan di beberapa titik bahkan jalan beton ini sudah terkelupas hingga besi-besinya mencuat, tentu harus ektra hati-hati dan pandai bermanuver agar roda mobil tidak melindas besi-besi yang mencuat tersebut, bisa dibayangkan jika roda mobil kita sampai meledak tertembus.

Suasana sepanjang perjalanan memang monoton, didominasi hutan-hutan yang tidak lagi padat, dengan jenis pohon monoculture, dan tidak terlihat pohon besar nan rimbun, sebagian bahkan sudah menjadi lahan terbuka, dan sesekali rumah-rumah baik yang terbuat dari kayu maupun rumah permanen terserak disepanjang jalan.

Namun begitu memasuki kecamatan Samboja, sudah jarang menemui rumah, hanya beberapa warung darurat yang sempat kami temui berada di sekitar proyek pembuatan pembatas jalan yang longsor, atau yang berpotensi longsor, semoga beton-beton pembatas itu atau batu-batu yang disusun dan diikat dengan kawat branjang, kualitasnya terjamin supaya tahan lama dan tidak memboroskan uang rakyat.



Memasuki kawasan Hutan Bangkirai, kami disambut oleh gerbang atau gapura yang terbuat dari kayu, kusam tidak terawat, begitu juga tulisannya, kami melintasinya dan beberapa kilometer kemudian kami melintasi pos penjagaan PT. Inhutani I. tak ada orang disana, kami melewatinya lagi sampai kami tiba di pos terakhir, dan membayar Rp. 3000,- per orang, Rp 15.000,- untuk mobil. Disini tersedia kantin, toko penjual cendera mata, beberapa cottage yang terbuat dari bahan kayu Ulin, ada pula yang berbentuk rumah panggung, juga ada semacam ruang pertemuan mereka menyebutnya Lamin, dan kolam renang beserta beberapa fasilitas bermain untuk anak-anak.

Saat kami datang pas hari sabtu dan kebetulan hari libur, tetapi tidak banyak pengunjung yang datang kesini, hanya ada satu keluarga yang aku lihat tiba disini sebelum kami. Sarapan mie instant dan kopi pahit, ritual kami pagi itu sebelum tracking menuju Canopy Bridge, aku sempat mengambil brosur yang tersedia di kantor pemasaran, barulah aku tahu bahwa Taman Wisata Bukit Bangkirai ini tepatnya berada di daerah Batuampar, dengan luas lahan 510 Ha. Pengelola juga memiliki program team builing, out bound activity, camping ground, dll. Tidak ketinggalan cottage berfasilitas AC, dengan harga relative murah.



Berlima kami berjalan sambil masing masing menenteng Camera, jeprat jepret sudah dimulai sejak di perjalanan tadi, kami berjalan agak lambat karena terlalu sering berhenti untuk mengambil foto. Jalur tracking dibuat dan dipersiapkan cukup baik, undakan sengaja dibuat untuk tracking yang menanjak, ada papan yang sengaja dipasang untuk menahan tanah agar tidak longsor sehingga membentuk undakan yang terlihat rapi, di beberapa tempat akar pohon menjadi tangga alami, suasana sudah mulai gelap karena padatnya pohon dan rimbunnya daun-daun yang menghalangi sinar matahari menyentuh tanah.
Semburat sinar matahari yang muncul disana sini, melewati celah celah yang ada diantara ranting dan daun membentuk nuansa indah, sangat indah… Suara-suara binatang bersautan disana-sini, mungkin burung atau sejenisnya, selebihnya senyap…tenang…, begitulah alam.



Menatap keatas, merasakan rindangnya pohon pohon besar, diam bersama mereka, bersama alam, meskipun sebentar, cukuplah damai menelusupi perasaan kita.



Kami telah melintasi track I sepanjang 150 meter, disebut sebagai track M. Prakoso. Udara terasa lembab, sehingga kami mudah berkeringat dan lengket. Jalur / track I ini umumnya jalur tanah, sebagian berupa undakan / tangga dari tanah yang disangga dengan papan, atau tangga alami dari akar pohon yang muncul dipermukaan tanah. Disepanjang jalur tracking, hanyalah pohon di kiri kanan kita, sementara dahan pohon, ranting dan daun daun memayungi kami.

Daun-daun kering, dan ranting-ranting kecil berserakan dibawah, melapisi jalur ini. Kami sempat menemui sebuah batang pohon besar yang melintang ditengah jalur, pohon itu tidak dipindahkan hanya dibelah sedikit, sekedar cukup untuk satu orang melintas, rupanya pengelola sengaja membiarkan segala sesuatunya terjadi alami disini, ada beberapa batang pohon dibiarkan rebah begitu saja menembus hutan sampai ujungnya tidak kelihatan, mungkin saking panjangnya batang pohon itu, di lain tempat terlihat batang pohon yang rebah dan nampak mulai rapuh, mungkin sudah bertahun-tahun istirahat disitu.



Selanjutnya kami melintasi track II sepanjang 300 meter, disebut track Djamaludin, yang berujung di lokasi Canopy Bridge. Situasi track / jalur masih serupa, tetapi lebih banyak pesan-pesan moral mengajak kita untuk bersahabat dengan alam. Di ujung track terdapat persimpangan dengan papan penunjuk, ternyata ada track III, IV, V, dan VI sebagai alternative untuk kembali ke tempat semula. Kami juga menemukan beberapa prasasti yang terbuat dari kayu bertuliskan nama, tanggal adopsi pohon, dan jenis pohon yang diadopsi. Antara lain tercatat MS Kaban, mantan mentri mengadopsi pohon Bangkirai, tanggal 17 Mei 2005. Rupanya nama taman ini diambil dari nama pohon yang mendominasi kawasan ini, yaitu pohon Bangkirai.

Tepat di depan anak tangga pertama dari menara kayu yang memutar melingkari pohon, aku mendongak keatas, canopy bridge itu nampak kecil diatas sana, gile, tinggi juga…



Dengan membayar Rp. 20.000,- per orang, kami satu persatu menapaki tangga, melingkar keatas, terus keatas hingga sampai di balkon, cukup untuk berlima, muncul juga perasaan ragu menyeberangi jembatan ini, jembatan ini terbuat dari papan-papan kecil, dikiri dan kanan-nya dibaut ke tali yang terbuat dari baja galvanis sebesar kelingking, lalu disamping kiri dan kanan di dipasang jaring pengaman, dan ada lagi 2 tali baja dikiri kanan setinggi bahu sebagai pegangan. Sepertinya cukup meyakinkan dan pasti kuat menahan beban manusia, aku melangkah ke tengah lalu berhenti, tangga ini bergoyang goyang ketika dilewati, kata kawan ngeri ngeri sedaap… Lalu aku melihat kebawah, wow manusia nampak kecil dilihat dari ketinggian 30 meter diatas tanah.



Aku tersadar oleh teriakan kawan yang menunggu antri melewati jembatan ini, ya, petugas dibawah mengingatkan tidak boleh lebih dari dua orang berada di jembatan, tetapi kami memutuskan satu persatu bergantian. Lalu aku melangkah menuju ujung jembatan dipohon satunya, disitu ada persimpangan jembatan, ada yang kekiri dan ada yang kekanan, aku tapaki semua, total ada 65 meter terhubung ke 5 pohon. Tapi hanya 2 pohon yang dilengkapi dengan tangga, satu untuk naik, satu lagi untuk turun.



Diam di Balkon dan memandang sekeliling, aku serasa diatap hutan Borneo. Pucuk- pucuk pohon terlihat indah sekali dari atas sini, rimbun, padat, seperti brokoli yang berhimpit himpitan, hijaunya menyejukkan pandangan, tenang…damai disini, tak ada suara manusia, jauh disana langit seolah bertemu dengan pohon, seperti cakrawala di laut.



Aku sebarangi seluruh Canopy Bridge, dari Balkon yang satu ke Balkon yang lain, menikmati atap hutan Borneo dari sudut Balkon yang berbeda, tak terasa… sudah setengah jam lebih ada di sini, the only canopy bridge di Indonesia, dan setelah naik, pastinya akan turun juga.



Balikpapan, 14 Juni 2013
Muhammad Afif

COMMENTS

open trip pulau harapan
open trip pulau tidung
paket open trip pulau harapan
Nama

aceh,1,adat,3,adventure,30,agenda,12,agrowisata,1,air,2,air terjun,3,aktifitas,1,artikel,13,baduy,3,bahari,12,bali,1,berita,31,biak,4,biak numfor,4,bogor,1,borneo,1,bromo,3,budaya,10,cagar alam,4,camping,3,candi,3,club,2,curug,2,database,20,dieng,2,direktori,21,ekowisata,19,erupsi,6,explore indonesia,7,fauna,6,festival,5,gallery,37,gili,2,green canyon,7,gua,2,gunung,32,gunung indonesia,23,gunung kidul,1,habitat,5,halmahera,1,heritage,6,hidram,1,hiking,3,hobby,2,indonesia,18,internasional,1,jasa,4,jateng,11,jatim,18,jawa,15,jawa tengah,2,jawabarat,17,kabar,43,kalimantan,1,kampung,4,karnaval,2,karst,3,keluarga,15,kliping,4,komodo,1,komunitas,2,konservasi,8,koran,1,krakatau,2,lampung,3,lansekap,9,liburan,17,lingkungan,5,lombok,3,lsm,3,mafif,16,maluku,1,merapi,17,mojokerto,7,musium,2,nusantara,6,olahraga,2,outdoor,4,panduan,2,pangandaran,7,pantai,10,papua,7,pegunungan,3,pelatihan,4,pendidikan,8,penelitian,3,pengetahuan,7,penginapan,6,perayaan,1,perjalanan,23,permainan,1,perusahaan,2,peta,1,produk,1,profil,7,promosi,6,pulau,14,pulau seribu,7,puncak,1,purbakala,6,pusaka,8,rekreasi,16,resort,2,sejarah,13,semarang,2,sepeda,2,situs,3,snorkeling,2,sosok,1,spesies,1,suaka,5,suaka margasatwa,2,sulawesi,2,sulteng,1,sumbawa,1,taman laut,3,taman nasional,11,teknologi,2,tepat guna,2,tips info,4,travel story,28,trawangan,1,tutorial,1,ujung genteng,3,ujung kulon,1,unesco,1,unggas,2,untung jawa,2,urban,1,video,1,visit,9,wana wisata,4,website,4,weekend,13,wisata,20,wisata alam,23,zonasi,2,
ltr
item
dari Sabang sampai Merauke: Ngeri Sedap di atas Canopy Bridge Bukit Bangkirai
Ngeri Sedap di atas Canopy Bridge Bukit Bangkirai
Taman Wisata Alam – Bukit Bangkirai, Kalimantan Timur. memiliki sebuah jembatan tajuk sepanjang 64 meter dan 30 meter dari permukaan tanah, satu-satunya di Indonesia dan di Asia
http://3.bp.blogspot.com/-hSJAtOCuqIg/UciIm5HYI5I/AAAAAAAACgk/qktG8Y4BrvI/s500/canopy_bangkirai.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-hSJAtOCuqIg/UciIm5HYI5I/AAAAAAAACgk/qktG8Y4BrvI/s72-c/canopy_bangkirai.jpg
dari Sabang sampai Merauke
https://www.khatulistiwa.info/2013/06/menyeberangi-canopy-bridge-bukit-bangkirai-kaltim.html
https://www.khatulistiwa.info/
https://www.khatulistiwa.info/
https://www.khatulistiwa.info/2013/06/menyeberangi-canopy-bridge-bukit-bangkirai-kaltim.html
true
1620220249560247209
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy