Untuk Berlangganan Rutin
Masukkan Alamat Email anda disini:

Delivered by khatulistiwa.info


Ekowisata Indonesia

Pelancong

Meretas Jalan Panjang Sejarah Kereta Api



Semarang merupakan tonggak awal dibangunnya jalur kereta api pertama di Indonesia. Beberapa peninggalan yang menggambarkan perjalanan perkeretaapian kini masih menyisakan nafasnya diberbagai tempat. Meski sebagian bisa dikatakan sudah atau nyaris hilang, masih ada yang pantas untuk disinggahi sebagai monumen perjuangan saat meretas jalan hingga menuai waktu.
Istilah ini menyiratkan sebuah perjalanan panjang sang roda besi di Semarang, yang telah berumur 140 tahun, dalam menapaki terjalnya lintasan bagaikan kisah yang tiada akhir. Hanya sang waktu yang dpat membuktikan sosok roda besi ini menapakkan langkahnya diantara berbagai harapan yang tak pernah usai.



Begitulah bunyi salah tulisan yang terdapat di poster di salah satu ruangan di Lawang Sewu. Jika anda mengunjungi Lawang Sewu, maka kunjungilah Museum Kereta Api, Ambarawa, atau sebaliknya jika anda mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa maka kunjungilah Lawang Sewu, Semarang, anda akan temukan benang merah diantara keduanya

Meseum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa sesungguhnya adalah sebuah stasiun kereta api yang dibangun atas inisiatif Raja Williem dari Belanda dan diresmikan pada 21 Mei 1873.

Ketika itu diberi nama Stasiun Williem, stasiun ini pada awalnya dibangun untuk kepentingn militer, berfungsi untuk mengangkut tentara Belanda berikut logistiknya dengan menggunakan kereta menuju ke kota-kota yang terhubung, khususnya Semarang.



Dijaman Belanda, Ambarawa memang kota militer. Dikota ini dulu terdapat Benteng Williem. Konon, kehidupan pribumi kala itu pun berubah drastis sejak kehadiran kereta yang digerakan dengan bahan bakar kayu jati itu. Pengiriman barang dan transportasi antardaerah kian mudah dan cepat.

Tidak diketahui, kapan nama stasiun ini berubah menjadi Stasiun Ambarawa, tetapi dialihkan fungsinya menjadi Museum Kereta Api Ambarawa adalah pada 6 Oktober 1976. mengoleksi 21 lokomotif dan akan terus bertambah, beberapa lokomotif tua yang tersebar di berbagai daerah seperti Surabaya, Cepu dan Taman Mini rencananya akan dipindahkan ke Museum ini. Selain loko tua, museum ini juga mempunyai koleksi perlengkapan telephone dan telegraph tua, peralatan signal stasiun tua, serta perlengkapan kantor / furnitur tua.



Stasiun [Museum] ini juga masih memili lokomotif tua yang masih berfungsi dan digunakan untuk kepentingan wisata [Ambarawa Railway Mountain Tour] menuju beberapa stasiun seperti Tuntang berjarak 7 km, dan Bedono yang berjarak 35 km, tour dengan menggunakan kereta tua ini adalah favorit para pelancong, mungkin karena suasana nostalgia serta pemandangan sepanjang perjalanan yang sangat indah, yaitu lanskap lahan pertanian petani setempat dengan latar belakang pemandangan gunung Merbabu dan gunung Ungaran.

Di Musium ini juga masih tersimpan lokomotive bersejarah C281 yang pernah mengangkut Presiden Soekarno ketika hijarah menuju Jogjakarta pada tahun 1946, Ambarawa dapat ditempuh kurang dari 1 jam dari kota Semarang, melewati ring road yang baru di Ambarawa sebelum akhirnya tiba di Stasiun [museum].



Setiba di halaman parkir stasiun, suasanya terasa begitu panas karena sengatan matahari, sepintas dari luar stasiun ini terlihat tidak terawat, tidak ada pagar permanent yang membatasi stasiun dengan areal diluarnya, namun tongkrongan beberapa lokomotif dengan warna hitam legam itu cukup menghibur pandangan kami. Halaman yang dipenuhi dengan berbagai bentuk lokomotif ini cukup terawat, tanaman terpangkas rapi, lantai semen dan kanstin tampak bersih dengan warna cat yang masih segar.

Didalam lokasi stasiun yang luas suasana sama sekali beda, angin semilir yang membawa sejuk, serta hanggar dengan kerangka besi dipadu dengan tembok bangunan stasiun yang kokoh, + pintu pintu kayu yang besar, khas bangunan jaman Belanda membawa kita pada suasana abad pertengahan.



Bagian dalam stasiun ini cukup terawat, lantainyapun nampak bersih. Jarang pengunjung, namun kami menemui beberapa turis luar. Sayang sekali tidak ada jadwal perjalanan wisata kereta tua, karena sedang dalam renovasi, begitu bunyi pengumuman yang kami baca di salah satu sudut tembok stasiun, kami juga tidak menemui personil atau petugas stasiun.

Ketika kami melongok ke dalam ruang kantor, kami tidak menemui satu orangpun. Mungkin karena saat itu sedang dalam suasana liburan lebaran sehingga para karyawan lebih memilih bersilaturrahmi ke tetangga atau sanak family.
Bersama anak anak, berkunjung kesini sangat bernilai dalam rangka memberi gambaran tentang sejarah lokomotif / kereta api yang amat berperan dijamannya, kenapa jalur kereta api harus dibangun, baik latar belakang maupun tujuannya, bagaimana lokomotif ini bekerja, dll.



Museum ini tentu bermanfaat untuk menyimpan dan menggunakannya sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat khususnya generasi muda, asset sejarah yang tak ternilai, serta berfungsi sebagai referensi seni, science, dan technology, serta pemahaman kultur masyarakat kita kala itu. Dengan memahami sejarahnya, kita akan memahami pula peranan kereta api sebagai moda transportasi darat dan fungsinya melayani masyarakat dari waktu ke waktu.



Menilik sejarah kereta api di Indonesia, maka tidak bisa dilepaskan dari kota Semarang, disana terdapat gedung tua “Lawang Sewu” yang dulu adalah kantor pusat perusahaan kereta api di jaman belanda. Sejarah kereta api di Indonesia dimulai sejak tahun 1860 ketika studi tentang pembangunan rel kereta api dilakukan, sampai akhirnya 1867 pembangunan rel kereta api untuk pertamakali dilakukan dengan jalur Semarang-Tanggoeng sejauh 25 km.

Foto, Itulah kegiatan yang tidak boleh terlewatkan disini, sudut-sudutnya, lokomotif lokomotif tuanya, serta suasanya, sayang sekali kalau tidak diabadikan keindahannya, sekaligus sebagai bukti bahwa kita pernah kesini...

Selamat berkunjung...

Posting oleh khatulistiwa info pd 00.16. Kategori Artikel , , , , , , . Anda dapat mengikuti semua tanggapan ini melalui RSS 2.0

Tanggapan Anda

comments powered by Disqus

Khatulistiwa Terkini

Tanggapan

Like us on foursquare


Album Photo