Sudah dua jam kami berjalan tapi Herman bilang ini belum lagi sepertiga perjalanan, wah… aku agak khawatir kita baru akan sampai di pemukiman Baduy Dalam setelah gelap, rombongan ini terlalu santai dalam menempuh perjalanan, kami harus mengurangi istirahat agar bisa tiba sebelum gelap. Ttak terasa kami menemui satu lagi jembatan Bambu diatas sungai, ada kawan yang mengingatkan disebrang sana adalah wilayah adat Badui Dalam, berarti kita harus siap-siap mematuhi segala ketentuan yang disyaratkan untuk boleh memasuki kawasan Baduy Dalam, tidak boleh memotret, dan aku puas-puaskan memotret disini.
Orang asing dilarang masuk ke Baduy dalam…! Suara ini samar aku dengar dari dialog salah satu anggota rombongan dengan pengantar kami, orang Baduy asli, penasaran aku mendekat, “kan kita mau ke dalam ?”, tanyaku dengan tekanan suara yang jelas, maksudnya supaya orang baduy asli itu denger, dan benar dia menjawab, “orang asing itu maksudnya “bule”, dan “chinese”. Pertama reaksiku biasa saja terhadap jawaban pertama, tapi Chinese, kenapa dianggap asing juga ?, sudahlah aku tidak berani bertanya lebih jauh, kami terus melanjutkan perjalanan menelusuri jalan batu meninggalkan Ciboleger, terminal terakhir tempat kendaraan kami berhenti.
Disela tugas kantor yang mengharuskan saya berada di Sulawesi Utara untuk beberapa hari, Bunaken menjadi salah satu “
agenda” yang harus disisipkan. Menurut referensi yang saya baca, Bunaken memiliki kekayaan
biodiversity tertinggi di dunia makanya kesempatan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Tidak lengkap jika berkunjung ke Biak Numfor tapi tidak menyempatkan diri datang ke Desa Urfu Kecamatan Biak Kota, dengan kendaraan pribadi anda dapat menempuhnya hanya 20 menit dari kota. Tempat ini sangat lengkap, syarat dengan berbagai macam materi sebagai tujuan wisata, panorama laut dan pantai yang sangat menawan, budaya masyarakat lokal, sejarah Suku Biak bahkan untuk kepentingan pendidikan dan arkeologi, datang ke Kampung Tua Padwa adalah pilihan yang sangat tepat.
Tujuan akhirnya adalah mandi air tawar Warsa Waterfall, namun perjalanan dari kota menuju ke sana masih terhampar beberapa pantai-pantai yang sangat sayang jika cuman dilewati saja. Berasin-asin ria dengan air laut dan selanjutnya mandi bilas di air terjun boleh dibilang adalah cara berpikir cerdas dan sehat.
Situs Gua Jepang Binsari, Melihat langsung bukti sejarah terjadinya Perang Dunia II di Biak, salah satu tempat yang dapat memberikan informasi cukup lengkap dan dekat dengan kota adalah di Situs Gua Jepang, yang terletak sebelah barat kota, persisnya di desa Sumberker, Kabupaten Biak Numfor. Situs Gua Jepang, begitulah masyarakat luas menyebut dan mengenal tempat bersejarah ini, masyarakat setempat menamai gua ini dengan “Abiyau Binzar” yang berarti wanita tua karena menurut legenda, sebelum digunakan oleh tentara Jepang, gua tersebut pernah ditinggali oleh seorang wanita tua.
Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Papua kaya akan potensi wisata Baharinya. Beberapa nama pantai yang cukup terkenal terpampang disepanjang jalur perjalanan, kalo cukup punya banyak waktu, rasakan segarnya air tawar di gua-gua bentukan alam di pinggir-pinggir jalan.