Disela tugas kantor yang mengharuskan saya berada di Sulawesi Utara untuk beberapa hari, Bunaken menjadi salah satu “
agenda” yang harus disisipkan. Menurut referensi yang saya baca, Bunaken memiliki kekayaan
biodiversity tertinggi di dunia makanya kesempatan ini tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Tidak lengkap jika berkunjung ke Biak Numfor tapi tidak menyempatkan diri datang ke Desa Urfu Kecamatan Biak Kota, dengan kendaraan pribadi anda dapat menempuhnya hanya 20 menit dari kota. Tempat ini sangat lengkap, syarat dengan berbagai macam materi sebagai tujuan wisata, panorama laut dan pantai yang sangat menawan, budaya masyarakat lokal, sejarah Suku Biak bahkan untuk kepentingan pendidikan dan arkeologi, datang ke Kampung Tua Padwa adalah pilihan yang sangat tepat.
Tujuan akhirnya adalah mandi air tawar Warsa Waterfall, namun perjalanan dari kota menuju ke sana masih terhampar beberapa pantai-pantai yang sangat sayang jika cuman dilewati saja. Berasin-asin ria dengan air laut dan selanjutnya mandi bilas di air terjun boleh dibilang adalah cara berpikir cerdas dan sehat.
Situs Gua Jepang Binsari, Melihat langsung bukti sejarah terjadinya Perang Dunia II di Biak, salah satu tempat yang dapat memberikan informasi cukup lengkap dan dekat dengan kota adalah di Situs Gua Jepang, yang terletak sebelah barat kota, persisnya di desa Sumberker, Kabupaten Biak Numfor. Situs Gua Jepang, begitulah masyarakat luas menyebut dan mengenal tempat bersejarah ini, masyarakat setempat menamai gua ini dengan “Abiyau Binzar” yang berarti wanita tua karena menurut legenda, sebelum digunakan oleh tentara Jepang, gua tersebut pernah ditinggali oleh seorang wanita tua.
Distrik Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Papua kaya akan potensi wisata Baharinya. Beberapa nama pantai yang cukup terkenal terpampang disepanjang jalur perjalanan, kalo cukup punya banyak waktu, rasakan segarnya air tawar di gua-gua bentukan alam di pinggir-pinggir jalan.
Entah sudah berapa kali aku ke sini ?, yang aku ingat ini untuk yang kedua kalinya bersama keluarga. Bromo memang ”a never ending story”, tak pernah usai membicarakannya, dan tak pernah bosan mengunjunginya
Kali ini kami mengunjungi Bromo pada saat libur lebaran, sudah terbayang betapa padatnya Bromo di musim liburan lebaran seperti saat ini. Kami memilih mengambil
jalur Ngadisari sampai di
Cemoro lawang. Dan benar... seluruh hotel penuh, semua
homestay dipinggir jalan juga penuh, akhirnya kami ditawari oleh pemuda setempat sebuah rumah agak masuk ke dalam, dengan tarif seperti hotel berbintang di Surabaya, dengan dua kamar sederhana, dan kamar mandi diluar rumah, lumayan untuk istirahat malam ini, anak anak pun tidak keberatan dari pada tidur di mobil kata mereka....
Pantai Lampuuk berada di kabupaten Aceh Besar. Luas, putih dan kealamian yang terjaga, paling asyik dinikmati pemandangannya matahari tenggelam atau biasa bule bilang Sunset. Pantai Lampuuk sangat Alami berbeda dengan tetangganya pantai Lhoknga yang terdapat pabrik semen SAI (Semen Andalas Indonesia) sehingga campur aduk dengan pemandangan industri. Di Lhoknga kamu juga bisa melihat sisa kapal terdampar di pantai karena tsunami, yang menurut Okta dulunya tersangkut di lereng bukit (WOW!!!, segede gitu...).